Teori atom Dalton
Menjelang
akhir abad ke-18, dua kaidah tentang reaksi kimia muncul tanpa mengacu pada
gagasan teori atom. Pertama adalah hukum kekekalan massa, yang dirumuskan oleh
Antoine Lavoisier pada tahun 1789, yang menyatakan bahwa total massa dalam
reaksi kimia adalah tetap (yaitu, reaktan memiliki massa yang sama dengan
produk). Kaidah kedua adalah hukum perbandingan tetap. Kaidah ini pertama kali
dibuktikan oleh kimiawan Perancis Joseph Louis Proust pada tahun 1799. Hukum
ini menyatakan bahwa jika suatu senyawa dipecah menjadi unsur penyusunnya, maka
massa konstituen akan selalu memiliki perbandingan yang sama, terlepas dari
kuantitas atau sumber substansi aslinya.
Teori atom Thomson
Pada tahun 1897 J. J. Thompson menemukan partikel sub-atomik
pertama yang dikenal adalah elektron. Sehubungan dengan penemuan J.J Thomson
menyangkal teori yang dikemukakan oleh Dalton. Berdasarkan penemuannya
tersebut, kemudian Thompson mengajukan teori atom baru yang dikenal dengan
sebutan model atom Thompson. Thomson adalah orang pertama yang membayangkan
bentuk atom ditinjau dari sudut kelistrikan. Model atom Thompson dianalogkan
seperti sebuah roti kismis, di mana atom terdiri atas materi bermuatan positif
dan di dalamnya tersebar elektron bagaikan kismis dalam roti kismis. Karena
muatan positif dan negatif bercampur jadi satu dengan jumlah yang sama, maka
secara keseluruhan atom menurut Thompson bersifat netral. Bagian positif dari
atom Thompson berdiameter 10-10 m (1 A).
Menurut Thomson atom itu terdiri atas muatan positif yang merata
diseluruh atom, muatan ini di-netral-kan oleh muatan negatif yang tersebar
merata pula diseluruh atom. Model ini tidak dikembangkan karena tidak sesuai
dengan hasil percobaan Rutherford.
Teori
atom Rutherford
Penelitian yang dilakukan oleh Rutherford, Geiger, dan Marsden pada
permulaan abad ke-20 memberikan banyak informasi tentang susunan atom, yang
diketahui atas partikel-partikel negatif (elektron) dan bagian-bagian yang
positif.
Hasil penelitian tentang penghamburan sinar alfa yang dijatuhkan
pada lempeng logam emas yang sangat tipis (0,0004 mm) mengungkapkan bahwa: (1) Sebagian
besar dari partikel alfa tembus lempeng dengan hanya sebagian kecil yang
mengalami penyimpangan dari arahnya yang semula; (2) Hanya 1 dari 20.000
partikel alfa dipantulkan dengan sudut 900 atau lebih.
Menurut Rutherford, hasil eksperimen ini hanya dapat diterangkan
apabila dianggap bahwa seluruh muatan positif dari atom terpusat pada suatu
inti yang sangat kecil. Dari penelitian penghamburan sinar alfa dan dari penelitian
lainnya, Rutherford menarik kesimpulan bahwa atom terdiri atas suatu inti yang
kecil (jari-jari 10-13) dengan muatan listrik +Ze di mana praktis seluruh
muatan atom terpusat, dan elektron-elektron sebanyak Z yang bergerak
mengelilingi inti. Z adalah sesuai dengan nomor atom.
Teori
atom Bohr
Hasil pengamatan spektroskopis terhadap spektrum atom Hidrogen
telah membuka kelemahan-kelemahan model atom Rutherford.
Dari
kenyataan ini dapat ditafsirkan beberapa kemungkinan:
1. Model atom Rutherford salah, atau
2. Teori Elektrodinamika klasik salah, atau
3. Model atom Rutherford dan
teori Elektrodinamika klasik hanya berlaku untuk batas-batas tertentu.
Pada
tahun 1913, Niels Bohr (1885-1962) menyusun model atom Hidrogen berdasarkan
model atom Rutherford dan teori Kuantum.
Teori
atom mekanika gelombang
Teori mekanika gelombang merupakan asar teori atom modern, tokohnya
yaitu Louis de Broglie, Erwin Schrodinger, dan Werner Heisenberg. Hipotesis
Louis de Broglie dan azas ketidakpastian dari Heisenberg merupakan dasar dari
model Mekanika Kuantum (Gelombang) yang dikemukakan oleh Erwin Schrodinger pada tahun 1927, yang mengajukan konsep orbital
untuk menyatakan kedudukan elektron dalam atom. Orbital menyatakan suatu daerah
dimana elektron paling mungkin (peluang terbesar) untuk ditemukan.
Schrodinger sependapat dengan Heisenberg bahwa kedudukan elektron
dalam atom tidak dapat ditentukan secara pasti, namun yang dapat ditentukan
adalah kebolehjadian menemukan elektron pada suatu titik pada jarak tertentu
dari intinya. Ruangan yang memiliki kebolehjadian terbesar ditemukannya
elektron disebut Orbital.
Menurut teori atom modern, atom terdiri atas inti yang terdiri dari
2 jenis nukleon (proton dan Neutron) dan elektron berada di sekeliling inti
atom. Proton dan neutron memiliki massa yang sama, proton bermuatan positif dan
neutron bermuatan netral atau tidak bermuatan. Elektron mempunyai sifat
dualistik, yaitu dapat bersifat sebagai partikel dan gelombang, sehingga
kedudukan elektron dalam atom tidak dapat ditentukan secara pasti, yang dapat
dikatakan adalah kebolehjadian menemukan elektron pada jarak tertentu dari
inti. Dalam mekanika kuantum, model orbital atom digambarkan menyerupai “awan”.
Beberapa orbital bergabung membentuk kelompok yang disebut Subkulit. Selengkapnya dapat di Download pada halaman ini.
No comments:
Post a Comment